Nilai Strategis Kesehatan Tenaga Kerja Bagi Perusahaan Untuk Melindungi Aset Human Capital dan Menunjang Keunggulan Kompetitif Perusahaan (Competitive Advantage)

on . Posted in Ilmiah & Jurnal

dr. Sudi Astono, MS
Mahasiswa Pascasarjana Doktoral
Manajemen Sumberdaya Manusia, Universitas Negeri Jakarta

Setiap perusahaan selalu menginginkan untuk dapat menghasilkan produk yang berkualitas secara efektif dan efisien agar memperoleh keuntungan. Disisi lain perusahaan juga perlu meningkatkan daya saing agar usahanya dapat berjalan secara berkelanjutan.
Kemampuan  bersaing  suatu perusahaan dipengaruhi oleh keunggulan suatu perusahaan terhadap perusahaan lainnya. Michael E. Porter dalam bukunya : Competitive Advantage Creating and Sustaining Superior Performance, 1990 mengatakan bahwa keunggulan kompetitif diperoleh bila suatu perusahaan memiliki suatu produk atau pelayanan yang dapat diterima oleh pelanggan pada target pasarnya lebih baik dari pada perusahaan pesaingnya.

Michael E. Porter mengidentifikasi ada dua tipe dasar keunggulan kompetitif, yaitu keunggulan dalam hal pembiayaan (cost advantage) dan keunggulan deferinsiasi produk (differentiation advantage). Cost advantage diperoleh ketika perusahaan mampu  menghasilkan keuntungan yang sama seperti yang diperoleh perusahaan pesaing tetapi dengan “lower cost”. Differentiation advantage diperoleh ketika  perusahaan mampu menghasilkan keuntungan yang melampaui produk-produk perusahaan pesaing. Cost advantage dan differentiation dikenal dengan “Positional Advantage” yang menggambarkan bahwa perusahaan ini sebagai leader dalam hal kedua aspek tersebut.

Roda organisasi berjalan atas peran utama sumberdaya manusia (SDM) yang menjalankannya. Dengan demikian maka keunggulan kompetitif suatu perusahaan sangat dipengaruhi oleh kualitas SDM yang dimiliki. Sementara kualtas SDM juga sangat dipengaruhi oleh kualitas kesehatan seseorang.
Kesehatan kerja merupakan salah satu aspek penting dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan karyawan/pekerja. Titik kritis pentingnya program kesehatan kerja adalah bahwa pekerja mutlak mendapatkan perlindungan dari berbagai risiko kecelakaan dan penyakit atau gangguan kesehatan akibat pekerjaan dan lingkungan kerjanya yang sehari-hari dihadapi oleh pekerja. Selain itu, pekerja sebagai bagian dari masyarakat pada umumnya juga menghadapi risiko berbagai penyakit di luar tempat kerja.
Selaras dengan orientasi baru Human Resorces Management (HRM), pekerja/SDM ditempatkan pada posisi central dalam menjalankan organisasi/perusahaan. Dengan demikian pekerja merupakan aktor penting untuk mencapai tujuan perusahaan/organisasi. Salah satu bentuk orientasi baru HRM adalah pendekatan Human Capital Mangement (HCM), dimana pekerja diposisikan sebagai modal/capital penting khususnya sebagai salah satu intangibel aset yang berupa : motivasi kerja, etos kerja, skill, knowledge, pengalaman dan lain-lain. Menurut Bradley W. Hall dalam “The New Human Capital Strategy” (2008), Human capital mengacu kepada : stok  kompetensi, knowledge dan personality attributes (etos kerja, komitmen mutu), kemampuan kerja/ability untuk menghasilkan nilai ekonomi dan diperoleh hasil dari pengalaman dan edukasi.
Sementara dari sisi bisnis, maka pekerja yang sakit atau kurang sehat akan membebani biaya operasional perusahaan dan menurunkan tingkat produktivitas pekerjanya. Sebaliknya, tenaga kerja yang sehat adalah asset penting dari sisi human capital bagi perusahaan yang mendukung produktivitas yang tinggi. Memiliki pekerja yang sehat berarti perusahaan memiliki human capital yang terpelihara. Peningkatan kapasitas human capital pada pekerja akan lebih optimal apabila pekerja dalam kondisi kesehatan yang baik. Selanjutnya kondisi ini sangat berpengaruh terhadap tingkat daya saing perusahaan (competitive advantage) baik di tingkat lokal maupun global.
Perusahaan bisa kehilangan human capital yang dimiliki apabila kecelakaan kerja atau penyakit yang mengenai pada pekerja, khususnya pekerja yang memiliki talenta, skill, pengalaman dan lain-lain. Untuk mendapatkan pekerja dengan kompetensi dan talenta yang sama merupakan hal yang sangat sulit dan memerlukan waktu yang relatif lama dan biaya yang tidak sedikit, dan bahkan tidak akan bisa mendapatkan pekerja yang talentanya sama.
Untuk memposisikan diri sebagai perusahaan yang dapat memiliki competitive advantage, maka program perlindungan kesehatan kerja seharusnya menjadi bagian  dari komponen strategi bisnis suatu organisasi atau perusahaan.
Intergrasi program kesehatan kerja ke dalam strategi bisnis perusahaan untuk mencapai competitive advantage, dapat dilakukan melalui beberapa langkah :
1.    Pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja;
2.    Program promosi dan edukasi kesehatan kerja;
3.    Pemeriksaan kesehatan tenaga kerja secara regular;
4.    Pengendalian lingkungan kerja secara berkelanjutan;
5.    Pelayanan kesehatan bagi pekerja yang sakit dan cidera akibat kecelakaan.

•    Integrasi Strategi 1 : Pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja
Pemeriksaan kesehatan kepada calon pekerja pada saat rekrutmen memiliki nilai strategis untuk melakukan seleksi terhadap calon karyawan sesuai kompetensi yang dibutuhkan perusahaan/organisasi dengan melihat status/kondisi kesehatan calon pekerja.
Apabila pekerja yang diterima memiliki kondisi kesehatan yang tidak prima atau memiliki penyakit tertentu, maka akan mengurangi tingkat human capital dari pekerja tersebut, atau menjadi ancaman kapasitas human capital kedepannya. Hasil pemeriksaan kesehatan juga menjadi pertimbangan dalam menempatkan/memberikan job/pekerjaan terhadap pekerja tersebut, dengan tujuan mencegah terjadinya gangguan kesehatan/penyakit yang dapat ditimbulkan atau diperberat oleh pekerjaan dan kondisi lingkungan kerja.

•    Integrasi Strategi 2 : Program promosi dan edukasi kesehatan kerja
Pekerja/karyawan perusahaan selain harus ditingkatkan kapasitas kompetensinya, juga harus dipelihara dan ditingkatkan kesehatannya. Melalui program kesehatan kerja khususnya promosi dan edukasi dapat meningkatkan pemahaman pekerja untuk dapat menerapkan prinsip-prinsip pencegahan penyakit, kecelakaan dan gaya hidup sehat di tempat kerja khususnya dan di lingkungan pada umumnya. Dengan demikian maka perusahaan dapat mengurangi/meminimalkan kehilangan pekerjanya yang merupakan salah satu asset penting bagi perusahaan khususnya sebagai human capital.

•    Integrasi Strategi 3 : Pemeriksaan kesehatan tenaga kerja secara berkala/regular
Pemeriksaan kesehatan secara berkala sangat bermanfaat untuk menjaga asset human capital dari pekerja yang dimiliki perusahaan. Pemeriksaan kesehatan bagi pekerja harus disesuaikan dengan peta risiko bahaya lingkungan kerja (potential hazard) yang ada di suatu perusahaan/tempat kerja, dan dilakukan melalui pendekatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), atau kita sebut dengan pemeriksaan kesehatan yang berbasis K3. Dengan pemeriksaan kesehatan ini maka dapat dilakukan deteksi dini gangguan kesehatan pada pekerja, baik gangguan kesehatan yang bersifat umum maupun yang bersifat spesifik sesuai karakteristik potensi bahaya kesehatan (health hazard) di tempat kerjanya. Dengan diketahuinya secara dini maka gangguan kesehatan/penyakit tersebut dapat segera diatasi melalui program dan tindakan yang sesuai, baik terhadap pekerjanya maupun terhadap pengendalian lingkungan kerjanya. Sebaliknya, apabila gangguan kesehatan yang tidak dapat dideteksi secara dini akan berakibat pekerja mengalami penyakit yang lebih serius sampai dengan risiko kematian akibat penyakit yang diderita. Gangguan kesehatan yang serius sampai dengan kematian pekerja ini sama artinya dengan kehilangan asset human capital yang dimiliki suatu perusahaan.

•    Integrasi Strategi 4 : Pengendalian lingkungan kerja secara berkelanjutan.
Program pengendalian lingkungan kerja merupakan salah satu kegiatan perusahaan yang bertujuan meminimalkan risiko kecelakaan kerja dan gangguan kesehatan/penyakit pada pekerja. Dengan demikian program ini sangat berkaitan dengan strategi No. 3 di atas karena memiliki tujuan dan manfaat yang sama.

•    Integrasi Strategi 5 : Pelayanan kesehatan bagi pekerja yang sakit dan cidera akibat kecelakaan.
Pelayanan kesehatan bagi pekerja yang sakit dan cidera akibat kecelakaan berfungsi untuk meminimalkan konsekuensi dari penyakit dan cidera yang dialami pekerja. Melalui pelayanan kesehatan yang optimal ini maka pekerja yang sakit dan cidera dapat dipulihkan kondisi kesehatannya atau diminimalkan konsekuensinya. Sebaliknya, kurang adanya jaminan pelayanan kesehatan yang memadai maka perusahaan dapat kehilangan human capital dari pekerja yang penyakit dan cideranya sulit disembuhkan atau menjadi cacat aatau meninggal.
Dari beberapa analisis tersebut di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa, perusahaan perlu menjaga asset pentingnya yang berupa pekerja sebagai human capital untuk dapat memposisikan diri sebagai perusahaan yang memiliki keunggulan kompetitif (competitive advantage) atas perusahaan-perusahaan lain melalui program-program kesehatan kerja.

IDKI Newsflash

Untuk mendukung SKKNI perlu dibentuk Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP). LSP bertujuan untuk menyelenggarakan sertifikasi kompetensi profesi sesuai dengan ketentuan persyaratan nasional maupun internasional. LSP untuk mendukung SKKNI berupa LSP DKKI yaitu Lembaga Sertifikasi Profesi Dokter Kesehatan Kerja Indonesia yang merupakan organisasi independen dan bersifat nirlaba. LSP DKKI ini adalah organisasi tingkat nsional yang pusatnya berkedudukan di Jakarta dengan cabang ditiap propinsi.

Read more...